Diam-diam aku mulai mengamatinya. Dari kejauhan, aku melihatnya sedang duduk disebuah kursi dengan lelehan air mata sambil menuliskan sesuatu dalam buku kecil(diary). Tampak raut wajahnya menggambarkan luka yang sangat mendalam. Sepertinya ia sedang ada masalah. Belakangan ini, ia sering membawa tissue dengan ukuran yang lumayan besar. Terutama ketika musim panas tiba. Di lain waktu, tak sengaja aku melihat hidungnya mengeluarkan darah. Dan segera mungkin ia usap dengan tissue yang sudah di siapkannya dari awal musim panas. Musim panas di Kairo, bukanlah musim panas biasa melainkan seperti saat kita berada dekat tungku api yang besar. Ingin rasanya aku menghampirinya dan keluar dari tembok ini. Sepertinya itu tidak akan terjadi karna sifat individualisnya.
Ia adalah seorang gadis manis. Selalu menggunakan jilbab hijau dan kerudung senada. Anggun sekali gadis itu. Yang sangat megherankan bagiku adalah sifat individualisnya. Aku memang tidak tau sedikitpun tentang dia yang aku tau wajahnya seperti orang indonesia.Apa semua orang indonesia sepertinya.Kurasa tidak. Ia selalu sendiri dan tak pernah berbicara pada siapapun kecuali pada dosen pembimbing. Gadis itu bernama aisyah.Kata temanku yang berasal dari indonesia. Ia pindah ke kairo karna mendapatkan beasiswa dan keluarganya dari golongan orang yang bisa di bilang tidak mampu.
Saat itu pagi, aku selalu datang lebih awal untuk menghindari panasnya udara kairo. Aku melihatnya dari kejauhan berjalan menuju kelas. Saat kami berpapasan , ia tidak sadar kalau darah dari hidunya telah menetes ke kerudung hijaunya."syah, kamu sakit? hidungmu berdarah" dan ia pingsan di hadapanku. Akupun segera menopang tubuhnya. Aku terduduk, dan aku pun merangkulnya menuju kelas.Lalu ku baringkan Aisyah yang sedang tidak sadarkan diri di meja.Saatku membersihkan darah dari hidungya ia menyentuh tanganku dan sepertinya ia sedang menahan rasa sakit.
Hampir setengah jam kami disana, tidak seorangpun mahasiswa dan mahasiswi lain datang. Segera aku teringat kalau hari ini dosen sedang tidak berada di tempat.kenapa aku sampai lupa dan dia, barangkali ini sudah takdir allah mempertemukan aku dengannya. Aku bingung kemana harus membawanya pulang sedangkan aku tidak tau dimana dia tinggal.Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya pulang kerumahku dan tidak mungkin aku tinggalkan dia sendiri. Buru-buru ku hubungi supir pribadiku unuk menjemput kami.
Setelah sampai di rumahku, aku menelpon dokter, kenalan papaku untuk memeriksanya. Hasilnya sangat mengejutkan. Ternyata ia menderita kanker paru-paru dan menurut analisa dokter wakunya hidup tinggal beberapa bulan lagi. Aku merasa kasihan sekali, mengapa gadis sepertinya di berikan penyakit yang parah. Mengapa tidak aku saja yang merasakannya. mengapa tidak aku saja yang sakit dalam pikiranku.Jika saja aku dapat menggantikanmu Aisyah. Pasti sudah kulakukan.
Setelah ia sadar ku coba untuk sedikit bertanya tentang dirinya.Aku ditemani oleh seorang pembantu saat itu.Ternyata, Ia tinggal bersama tante angkatnya yang kasar dan suka menyiksa.Pantaslah aku sering melihat bekas merah dipipinya. Dan pembantuku bilang, bahwa, banyak sekali bekas cambukan tali pinggang di punggungnya. Aku semakin kasihan padanya. Gadis yang selama ini aku cinta ternyata nasibnya begitu malang. Andai aku bisa menggenggam tanganmu, dan memeluk erat dirimu untuk menguatkanmu. Akan kulakukan itu, namun ia belumlah halal bagiku.
Aku pikir, jika aku mengantarkan pulang ke rumah tantenya keadaannya akan semakin memburuk. Lantas terlintas dalam pikiranku untuk melakukan khitbah. Walaupun ia sedang sakit sekarang.
Aku menemuinya bersama seorang pembantu dan aku duduk disampingnya. Dan aku mulai berkata "Aisyah bersediakah engkau menjadi istriku" Ia terlihat terkejut kulihat dari raut mukanya. "Tidak pantas wanita penyakitan sepertiku mempunyai seorang suami yang kaya sepertimu Farhan. Masih banyak wanita lain yang lebih dari padaku". Suaranya yang parau kudengar. "Aku mencintaimu karna allah aisyah , kau tidak akanku biarkan pulang, Karna itu akan membuatmu terus di siksa oleh tantemu. ayolah aisyah kau taukan apa hukumnya seorang pria dan wanita tinggal serumah tanpa ada ikatan pernikahan" Dia menjawab "aku tau farhan, haram. Tapi .." "Tapi apa Aisyah, kau ingin Allah murka pada kita, karna mengerjakan larangannya" ia menjawab " tidak farhan tidak, Baiklah karna allah telah menakdirkannya"
lalu kupanggil ustadz dan beberapa orang saksi unuk melaksanakan ijab qabul. Setelah itu kami mengadakan Ijab qabul dengan di saksikan orang-orang terdekatku. Ini kulakukan karna kusangat mencintaimu Aisyah, akan ku jalani apa yang menjadi kewajibanku sebagai seorang suami. Yang selalu menuntun istrinya dan akan ku jaga kau dalam hidupku.
Beberapa hari setelah itu, Istriku menjalani pengobatan yang di sarankan para dokter spesialis paru-paru. Aku selalu membawanya ketaman saat ia inginkan. Dan kusuapi ia ketika ia berada dalam rumah sakit. ssetiap detikku selalu kulewati bersamanya tanpa sedikitpun rasa penyesalan karna ia adalah wanita soleha penenang hatiku. Ia selalu mmbelai mesra pipiku saat ia terbaring lemah di rumah sakit. para susterpun sampai iri melihat kemesraan kami.
Beberapa bulan berlalu keadaan istriku bukannya semakin membaik malah sebaliknya. Kucoba untuk menghubungi dokter dan melakukan apa saja asal istriku sehat kembali. Tapi dokter berkata bahwa masa pengobatan yang di jalani istriku adalah pengobatan yang sangat baik di sini. Ketika itu kami sedang duduk berdua ditaman , wajahnya pucat namun ia memaksakan untuk tersenyum padaku "munkin ini senyumku untukmu yang terakhir kali farhan" aku menjawab"apa maksudmu aisyah. kita akan bersama-sama selamanya" aisyah:"tidak farhan, aku sudah tidak kuat menahan sakit ini telalu lama" aku menjawab:"tidak aisyah kau harus kuat. dmi aku demi cinta kita aisyah" saat iu kepalanya bersandar di bahuku. farhan: "aisyah kau harus berjanji untuk kuat demi aku" Aisyah:"aku berjanji farhan untuk slalu setia menunggumu di surga" lalu kusadari , aku tak mendengar lagi desahan nafasnya. Kupeluk erat tubuhnya seakan tak ingin kulepas dan kumenangis melepas kepergiannya. "aisyah tunggu aku di surgaNya"
Hujan deras datang membuatku tersadar bahwa istriku telah kembali kerakhmatNya dan telah tenang di rumah barunya. ---The END---
0 komentar:
Posting Komentar